Di antara sekian banyak kue tradisional Kalimantan Barat, ada satu yang namanya selalu memancing rasa penasaran: lapis belacan. Namanya mengandung kata "belacan" — padahal kue ini tidak mengandung terasi sama sekali. Yang ada justru cokelat, telur, dan mentega yang dipanggang lapis per lapis.
Ini bukan kesalahan penamaan. Ini cerita tentang bagaimana sebuah kue menjadi bagian dari identitas kuliner Pontianak dan Sambas — dan bagaimana rasa cokelat yang lekat itu terus hidup dalam berbagai bentuk, termasuk di meja LapisPonti.
Apa Itu Lapis Belacan?
Lapis belacan adalah kue tradisional khas Sambas dan Pontianak, Kalimantan Barat. Penampakannya mirip lapis legit — berlapis-lapis dengan warna cokelat gelap kehitaman. Teksturnya padat tapi lembut, dan rasanya didominasi oleh cokelat yang dalam dan mentega yang rich.
Bahan-bahan utamanya sederhana tapi menuntut kualitas tinggi:
| Bahan | Fungsi |
|---|---|
| Kuning telur | Struktur dan kekayaan rasa |
| Mentega atau butter | Kelembutan dan aroma |
| Cokelat bubuk | Warna dan rasa khas |
| Gula pasir | Karamelisasi antar lapisan |
| Tepung terigu | Pengikat adonan |
Proses pembuatannya mirip lapis legit — adonan dituang tipis ke loyang, dipanggang dengan api atas hingga permukaannya mengering dan berwarna gelap, lalu lapisan berikutnya ditambahkan di atasnya. Satu loyang bisa memiliki 15–25 lapisan, tergantung ketebalan tiap lapisan.
Misteri di Balik Nama "Belacan"
Bagian paling menarik dari kue ini adalah namanya. Dalam bahasa Melayu dan Indonesia, "belacan" berarti terasi — pasta udang rebon yang difermentasi. Tapi lapis belacan sama sekali tidak mengandung terasi.
Lalu kenapa disebut belacan?
Ada beberapa versi yang beredar di kalangan masyarakat Sambas dan Pontianak:
- Versi bahasa: Dalam dialek Melayu Sambas, kata "belacan" memiliki makna yang berbeda dari terasi. Beberapa tetua adat menyebut kata ini merujuk pada proses pemanggangan berulang yang menghasilkan aroma khas — mirip proses pengolahan belacan yang juga membutuhkan waktu dan kesabaran.
- Versi visual: Warna cokelat gelap kehitaman kue ini menyerupai warna belacan yang sudah diolah, sehingga masyarakat menjulukinya demikian.
- Versi budaya: Kue ini awalnya dibuat sebagai sajian dalam acara adat Keraton Sambas, dan namanya tercatat dalam tradisi lisan masyarakat setempat.
Apapun asal-usulnya, nama "lapis belacan" sudah melekat selama puluhan tahun dan menjadi bagian dari khazanah kuliner Kalimantan Barat yang tidak bisa diabaikan.
Lapis Belacan dalam Kehidupan Sehari-hari Pontianak
Di Pontianak dan sekitarnya, lapis belacan bukan sekadar kue. Kue ini hadir dalam momen-momen tertentu yang menandakan perayaan dan penghormatan:
Saat Lebaran
Lapis belacan adalah salah satu kue wajib di meja sajian saat Lebaran. Bersama lapis legit dan kue kering lainnya, kehadiran lapis belacan menandakan bahwa rumah tersebut siap menerima tamu dengan sepenuh hati. Tanpa lapis belacan di meja, rasanya ada yang kurang.
Acara Adat dan Keraton
Dalam acara-acara adat Melayu Sambas, lapis belacan disajikan sebagai jamuan kehormatan bagi tamu penting. Penyajiannya memiliki aturan tersendiri — dipotong dengan ukuran yang rapi, ditata di piring khusus, dan diletakkan di posisi tertentu di meja.
Oleh-oleh dan Hadiah
Siapa saja yang berkunjung ke Pontianak pasti akan menemukan lapis belacan di daftar oleh-oleh. Daya tahannya yang baik — hingga 5–7 hari di suhu ruang — menjadikannya pilihan praktis untuk dibawa perjalanan.
Lapis Belacan dan Lapis Cokelat: Dua Nama, Satu Tradisi
Seiring waktu, istilah "lapis cokelat" mulai digunakan lebih luas, terutama oleh generasi muda yang lebih familiar dengan deskripsi rasa daripada nama tradisional. Kedua nama ini merujuk pada kue yang sama — berlapis cokelat, dipanggang bertahap, dengan tekstur padat dan lembut.
Yang membedakan hanyalah konteksnya:
| Lapis Belacan | Lapis Cokelat | |
|---|---|---|
| Nama | Tradisional, khas Sambas/Pontianak | Deskriptif, modern |
| Konteks | Acara adat, Lebaran, keraton | Sehari-hari, kafe, toko kue |
| Generasi | Dikenal oleh tetua dan keluarga lama | Dikenal oleh generasi muda |
| Esensi | Sama — kue lapis berbahan cokelat | Sama — kue lapis berbahan cokelat |
Di LapisPonti, kami memilih nama Lapis Cokelat karena lebih mudah dipahami oleh semua kalangan. Tapi di balik nama itu, kami menghormati tradisi lapis belacan yang sudah menjadi bagian dari identitas Pontianak selama puluhan tahun.
Apa yang Membuat Lapis Cokelat Berbeda dari Varian Lain?
Lapis Cokelat punya karakter yang tidak dimiliki varian lain dalam keluarga lapis legit:
- Rasa yang dalam, bukan sekadar manis — cokelat premium memberikan dimensi rasa yang berlapis: pahit di awal, manis di tengah, dan aftertaste yang panjang
- Cocok untuk yang tidak suka terlalu manis — varian ini menjadi favorit pencinta kopi hitam dan teh tawar karena keseimbangan rasanya
- Tampilan yang elegan — warna cokelat gelap yang merata memberikan kesan premium tanpa perlu hiasan
"Lapis cokelat adalah varian yang paling cocok dinikmati perlahan. Potong tipis, biarkan di lidah beberapa detik, dan rasakan bagaimana cokelatnya meleleh perlahan bertemu mentega."
Lapis Belacan untuk Masa Depan
Tradisi kuliner hanya bertahan jika ada yang meneruskannya. Di LapisPonti, kami melanjutkan tradisi lapis cokelat Pontianak dengan standar yang tidak bisa dikompromikan — bahan premium, proses lapis per lapis, dan rasa yang konsisten di setiap pesanan.
Nama "lapis belacan" mungkin mulai jarang terdengar di kalangan anak muda. Tapi rasa cokelat yang dalam dan lapisan yang teliti itu tidak akan hilang, selama masih ada yang mau membuatnya dengan cara yang benar.


Coba Varian Ini
Lapis Cokelat
Cokelat premium yang tidak sekadar manis
Bagikan artikel ini
WhatsApp



